Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Semoga humor-humor ini dapat menyegarkan hidup kita, dan memberikan inspirasi untuk produktivitas kita;

Showing posts with label Ketipu. Show all posts
Showing posts with label Ketipu. Show all posts

Wednesday, June 22, 2016

Suami-Isteri Jepang

Ada sepasang suami istri berkebangsaan Jepang lagi bertengkar hebat gara gara hubungan pasutri mereka bermasalah..!
Suami: " konichiwano Sukitaki no koro".

Istri: "Kowanini tomo!"

Suami: "Toka onsuii anji rodi roumi yakoo!

Sambil marah mengangkat tangannya sang suami berteriak lagi: "Hidene taka yarobi ahika na desuke!!"

Sambil berlutut istrinya menjawab:
"Ohayyo Mimi nakoundinda tinkouji !

Sang suami dengan agak kesal, akhirnya menurunkan tangannya sambil memeluk istrinya berkata:
"Kokoro Na moko kino tomo kouji.."

Dan anehnya sampeyan tetep maksa membaca tulisan ini, seperti paham bahasa Jepang aja.......
Sungguh luar biasa.... 👍

Saya aja nggak ngerti, blassss.... 😀  😜🏃🏃🏃

Tuesday, January 12, 2016

Layang kanggo Bejo

Mbah Sastro nulis layang kanggo anake, Bejo, sing lagi ditahan merga dikira teroris, isi layange:

"Jo, bapak wis tuwa tur ringkih, isih ngono sedih mikirne awakmu.. Saiki wis mangsa tandur telo, le. Kowe apa isih suwe ditahan? Njur iki sapa sing arep ngrewangi bapak macul?"

Kacek seminggu Bejo mbales layange bapakne, anggone ngirim layang dititipake sopir penjara,

"Pak, aku njaluk tulung tenan yo, kebon'e aja dipaculi dhisik, soale aku mendhem bedhil karo granat ning kebon kono kuwi, Pak. Tenan ya pak, aja dipaculi disik.."

Ora ngertiya, layang saka Bejo mau disensor dhisik karo petugas penjara.

Seminggu bar kuwi mbah Sastro kirim layang maneh:

"Jo, sak bar-e aku nampa layangmu, sak peleton Densus anti teror maculi kebon-e bapak.. Jarene nggoleki bedhil karo granat sing mbok pendhem. Nyatane ora ana.. Trus aku kudu piye iki, Jo?".

Bejo genti bales kirim layang maneh:
"Pak, saiki langsung ditanduri telo ae Pak.. Kan wis dipaculke karo bapak-bapak Densus. Aja lali ngaturke matur nuwun marang bapak-bapak Densus ya Pak, muga-muga entuk piwales saka Gusti Allah.."

Tuesday, January 5, 2016

Waspada Jalan Sepi

Waspadalah bila melewati Jalan Raden Inten, Jakarta Timur.

#Berbagi pengalaman pribadi agar orang lain tidak mengalami kejadian ini.

Kejadian ini saya alami malam minggu kemarin, tgl 2 Januari 2016, kira-kira pukul 8 malam, setelah mengisi bensin motor di pom bensin di sekitar Jalan Radin Inten, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Setelah mengisi bensin sampai penuh, saya segera meninggalkan pom bensin tersebut.
Baru berjalan kira-kira 200 meter, tiba-tiba lewat kaca spion, saya melihat 2 orang berboncengan motor, berjaket warna gelap dan helm hitam berusaha mengejar saya sambil memberikan kode agar saya berhenti.
Mengingat banyaknya kejadian begal sepeda motor, saya berusaha untuk memacu motor saya agar dapat terhindar dari upaya pembegalan.
Namun ternyata motor mereka lebih cepat, menyusul saya dan memerintahkan saya berhenti di pinggir jalan yg kebetulan memang sepi.
Saya berusaha melawan rasa takut yg luar biasa dan bertekad untuk melawan.

Dua-duanya segera mengepung saya dan berkata, "Pak, istri bapak ketinggalan tuh di pom bensin...!!!".

Saya lemes...
😃😃😃

Wednesday, October 15, 2014

Jangan Terlalu Dalam

Telah berulang kali Udin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di kotanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Udin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi --kita tahu-- menyogok itu diharamkan. Maka Udin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim
sendiri.

Udin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Udin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Udin.

Udin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"

Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"

"Yah," jawab Udin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Udin.

Jangan Terlalu Dalam

Telah berulang kali Udin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di kotanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Udin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi --kita tahu-- menyogok itu diharamkan. Maka Udin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim
sendiri.

Udin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Udin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Udin.

Udin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"

Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"

"Yah," jawab Udin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Udin.

Orang yang Memiliki Mimpi Terindah

Udin mengenakan membawa bekal pakaian dan memutuskan untuk melakukan sebuah petualangan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dua orang pengembara, Mamat dan Maman.

Mereka bertiga sepakat membentuk tim. Ketika sampai di sebuah perkampungan, kedua teman seperjalanan meminta Udin untuk mencari dana, sementara mereka berdua berbuat kebaikan untuk masyarakat. Udin berhasil mengumpulkan uang yang kemudian dibelanjakannya untuk ayam boreng.

Udin menyarankan agar makanan itu segera dibagi, tapi yang lain merasa belum terlalu lapar sehingga diputuskan untuk membaginya pada malam harinya saja.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Dan ketika malam tiba, Udin langsung meminta porsinya "karena akulah alat untuk memperoleh makanan itu."

Sementara itu, yang lain tidak setuju. Mamat mengajukan alasan. Karena bentuk tubuhnya yang paling bagus, maka pantaslah kalau ia yang makan lebih dulu.

Maman juga menyampaikan keadaan dirinya bahwa ia hanya makan sekali dalam tiga hari terakhir ini. Karenanya harus mendapat bagian yang lebih banyak.

Akhirnya mereka putuskan untuk tidur dengan sebuah janji bahwa yang malamnya bermimpi paling bagus, boleh makan ayam goreng lebih dulu. Begitu bangun, Mamat bilang: "Dalam mimpi aku melihat kakekku berpakaian putih dan tersenyum padaku. Itu berarti aku telah memperoleh berkah istimewa."

Yang lain merasa amat terkesan, tapi kemudian Maman menyambung: "Aku mimpi pergi ke syurga, tapi tidak menemukan apa-apa."


Sekarang giliran Udin.
"Aku mimpi bertemu seorang guru Sufi, Nabi Khidir, yang hanya muncul di depan orang yang paling suci. Ia berkata: 'Udin, makanlah halwa itu sekarang juga!' Dan, tentu saja, aku harus mematuhinya."

Penjual Pisang Goreng

Bapak bertanya pada ibu tua penjual pisang goreng.

Bpk : Sudah berapa lama jualan kue?
Ibu : Sudah hampir 30 tahun.
Bpk : Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?
Ibu : Anak saya ada 3, yang pertama kerja di BRI, ke2 di POLDA & yang ke3 di BCA, jadi mereka sibuk sekali.
Bapak kemudian meng-geleng2kan kepala karena kagum.
Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses.
Bpk : Apa jabatan anak di POLDA, BRI & BCA?
Ibu : Sama, jualan pisang goreng juga kok... :-P

Boss Pabrik

Seorang bos tiba2 melakukan sidak ke pabriknya untuk melihat kinerja pegawainya.

Di pabrik ia menemukan seorang pria muda sehat dan segar yg tengah bersandar santai-santai, sementara di ruangan itu semua pegawai sibuk bekerja.

Si bos segera menghampiri pria yg sedang berdiri santai itu dan bertanya, "Berapa gajimu sebulan?"

Dengan sedikit gugup pria itu menatap si bos dan menjawab," hemmm... Rp2 juta pak, emangnya kenapa pak..?"
Si bos lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil lembaran2 pecahan 100 ribuan lalu menyerahkan kpd pria itu sambil berkata, "Ini gajimu 3 bln ke depan, Rp6juta, pesangonmu!!  Cepat keluar, pergi dari sini. Jangan balik lag!"

Dengan gugup dan setengah takut pria itu segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak bicara. 

Lalu dg muka yg berwibawa si bos mendekati pegawai lain yg sejak tadi menyaksikan adegan tsb. "Itulah nasib pekerja yang santai-santai di pabrik saya. Saya berhentikan saat ini juga. Tidak ada tawar-menawar.
Kalian semua MENGERTI ?!?!? OK, adakah yang tahu dari divisi mana pemuda itu?" tanyanya.

Suasana jadi hening sampai akhirnya seorang staf menjawab dg sedikit ketakutan, "Ia tidak bekerja disini pak, ia adalah pengantar pizza yg mengantar pesanan dan sedang menunggu bayaran dari saya..."
Bos: :/ X_X:'(:'(