Telah berulang kali Udin
mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di kotanya
selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu.
Keadaan ini selalu berulang sehingga Udin menyimpulkan bahwa si hakim minta
disogok. Tapi --kita tahu-- menyogok itu diharamkan. Maka Udin memutuskan untuk
melemparkan keputusan ke si hakim
sendiri.
Udin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu
diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Udin
mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke
hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya
waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Udin.
Udin kemudian bertanya, "Tuan, apakah
pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan
?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan
terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya.
"Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Udin, "Sesuai ucapan
Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Udin.
Showing posts with label Udin. Show all posts
Showing posts with label Udin. Show all posts
Wednesday, October 15, 2014
Jangan Terlalu Dalam
Telah berulang kali Udin
mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di kotanya
selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu.
Keadaan ini selalu berulang sehingga Udin menyimpulkan bahwa si hakim minta
disogok. Tapi --kita tahu-- menyogok itu diharamkan. Maka Udin memutuskan untuk
melemparkan keputusan ke si hakim
sendiri.
Udin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Udin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Udin.
Udin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Udin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Udin.
sendiri.
Udin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Udin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Udin.
Udin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Udin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Udin.
Menjual Tangga
Udin mengambil tangganya
dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga
memergokinya.
"Sedang apa kau, Udin ?"
Udin berimprovisasi, "Aku ... punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual."
"Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga marah.
Udin bergaya filosof. "Tangga, bisa dijual di mana saja."
"Sedang apa kau, Udin ?"
Udin berimprovisasi, "Aku ... punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual."
"Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga marah.
Udin bergaya filosof. "Tangga, bisa dijual di mana saja."
Orientasi pada Baju
Udin diundang berburu,
tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Udin melepas
bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah.
Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.
"Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku," ujar Udin ringan.
Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Udin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Udin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya.
Sampai rumah, Udin tetap kering.
"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!"
"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju."
Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.
"Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku," ujar Udin ringan.
Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Udin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Udin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya.
Sampai rumah, Udin tetap kering.
"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!"
"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju."
Api
Hari Jum`at itu, Udin menjadi imam Shalat
Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah
terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang
Khotib,
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya ?"
Udin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"API yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah…"
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya ?"
Udin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"API yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah…"
Teori Kebutuhan
Udin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim
kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu
sisi saja. Hakim memulai,
"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."
Udin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."
Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Udin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."
Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"
Udin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"
Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."
Dan Udin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
"Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."
Udin menukas, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan."
Hakim mencoba bertaktik, "Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Udin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."
Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"
Udin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"
Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."
Dan Udin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
Belajar Kebijaksanaan
Seorang pemuda ingin belajar tentang
kebijaksanaan hidup dari Udin. Udin bersedia, dengan catatan bahwa
kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Pemuda itu pun bersedia menemani
Udin dan melihat
perilakunya.
Malam itu Udin membakar kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.
"Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Udin.
Setelah api besar, Udin memasak sop. Sop menjadi panas. Udin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.
"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Udin.
"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si darwis, "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."
perilakunya.
Malam itu Udin membakar kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.
"Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Udin.
Setelah api besar, Udin memasak sop. Sop menjadi panas. Udin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.
"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Udin.
"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si darwis, "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."
Labels:
Salah Faham,
Udin,
Umum
Miskin dan Sepi
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang
tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi
kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya
habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.
Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Udin.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Udin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Udin.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Udin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
Labels:
Salah Faham,
Udin,
Umum
Orang yang Memiliki Mimpi Terindah
Udin mengenakan membawa bekal pakaian dan
memutuskan untuk melakukan sebuah petualangan. Di tengah perjalanan, ia bertemu
dengan dua orang pengembara, Mamat dan Maman.
Mereka bertiga sepakat membentuk tim. Ketika sampai di sebuah perkampungan, kedua teman seperjalanan meminta Udin untuk mencari dana, sementara mereka berdua berbuat kebaikan untuk masyarakat. Udin berhasil mengumpulkan uang yang kemudian dibelanjakannya untuk ayam boreng.
Udin menyarankan agar makanan itu segera dibagi, tapi yang lain merasa belum terlalu lapar sehingga diputuskan untuk membaginya pada malam harinya saja.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Dan ketika malam tiba, Udin langsung meminta porsinya "karena akulah alat untuk memperoleh makanan itu."
Sementara itu, yang lain tidak setuju. Mamat mengajukan alasan. Karena bentuk tubuhnya yang paling bagus, maka pantaslah kalau ia yang makan lebih dulu.
Maman juga menyampaikan keadaan dirinya bahwa ia hanya makan sekali dalam tiga hari terakhir ini. Karenanya harus mendapat bagian yang lebih banyak.
Akhirnya mereka putuskan untuk tidur dengan sebuah janji bahwa yang malamnya bermimpi paling bagus, boleh makan ayam goreng lebih dulu. Begitu bangun, Mamat bilang: "Dalam mimpi aku melihat kakekku berpakaian putih dan tersenyum padaku. Itu berarti aku telah memperoleh berkah istimewa."
Yang lain merasa amat terkesan, tapi kemudian Maman menyambung: "Aku mimpi pergi ke syurga, tapi tidak menemukan apa-apa."
Mereka bertiga sepakat membentuk tim. Ketika sampai di sebuah perkampungan, kedua teman seperjalanan meminta Udin untuk mencari dana, sementara mereka berdua berbuat kebaikan untuk masyarakat. Udin berhasil mengumpulkan uang yang kemudian dibelanjakannya untuk ayam boreng.
Udin menyarankan agar makanan itu segera dibagi, tapi yang lain merasa belum terlalu lapar sehingga diputuskan untuk membaginya pada malam harinya saja.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Dan ketika malam tiba, Udin langsung meminta porsinya "karena akulah alat untuk memperoleh makanan itu."
Sementara itu, yang lain tidak setuju. Mamat mengajukan alasan. Karena bentuk tubuhnya yang paling bagus, maka pantaslah kalau ia yang makan lebih dulu.
Maman juga menyampaikan keadaan dirinya bahwa ia hanya makan sekali dalam tiga hari terakhir ini. Karenanya harus mendapat bagian yang lebih banyak.
Akhirnya mereka putuskan untuk tidur dengan sebuah janji bahwa yang malamnya bermimpi paling bagus, boleh makan ayam goreng lebih dulu. Begitu bangun, Mamat bilang: "Dalam mimpi aku melihat kakekku berpakaian putih dan tersenyum padaku. Itu berarti aku telah memperoleh berkah istimewa."
Yang lain merasa amat terkesan, tapi kemudian Maman menyambung: "Aku mimpi pergi ke syurga, tapi tidak menemukan apa-apa."
Sekarang giliran Udin.
"Aku mimpi bertemu seorang guru Sufi, Nabi Khidir, yang hanya muncul di depan orang yang paling suci. Ia berkata: 'Udin, makanlah halwa itu sekarang juga!' Dan, tentu saja, aku harus mematuhinya."
"Aku mimpi bertemu seorang guru Sufi, Nabi Khidir, yang hanya muncul di depan orang yang paling suci. Ia berkata: 'Udin, makanlah halwa itu sekarang juga!' Dan, tentu saja, aku harus mematuhinya."
Subscribe to:
Posts (Atom)


