Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Semoga humor-humor ini dapat menyegarkan hidup kita, dan memberikan inspirasi untuk produktivitas kita;

Showing posts with label Nashrudin. Show all posts
Showing posts with label Nashrudin. Show all posts

Thursday, October 16, 2014

Nashrudin Pergi Bercukur

Nasrudin dianggap sebagai guru sufi bahkan ia dipanggil sebagai Mullah, hal ini menujukkan dia memang berilmu. Pada suatu hari -Nasrudin pergi ke tukang cukur. Sialnya si tukang cukur bekerja amat lamban karena pisaunya tumpul.
Setiap kali pipi Nasrudin tergores hingga berdarah.

Tukang cukur cepat-cepat mengambil sejumput kapas dan meletakkannya pada luka itu. Hal ini berlangsung terus hingga beberapa kali. Sampai wajah Nashrudin penuh dengan jumputan-jumputan kapas. Ketika si tukang cukur hendak
melanjutkan dengan pipi Nasrudin yang satunya, tiba-tiba saja Nasrudin melompat dan memandangi wajahnya di kaca.

“Cukup, terima kasih, Saudara! Aku telah memutuskan untuk menanam kapas di pipi kiri dan gandum di pipi yang lain!”
http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/nasrudin-pergi-bercukur/

Kera Tahan Bau Nasruddin

Istri Nasruddin menginginkan binatang piaraan, maka ia membeli seekor kera.
Nasruddin tidak senang.

“Apa makanannnya?” tanyanya.
“Sama dengan yg kita makan”, jawab istrinya.

“Dimana kera itu akan tidur?”
“Di tempat tidur kita, bersama kita.”

“Bersama kita? Baunya bagaimana?”
“Kalau saya saja betah dengan bau itu, saya kira kera juga tahan”.
http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/kera-tahan-bau-nasruddin/

Wednesday, October 15, 2014

Kebijaksanaan dari Toko Sepatu

Nashrudin diundang menghadiri sebuah pesta perkawinan. Sebelumnya, di rumah orang yang mengundang itu, ia pernah kehilangan sendal. Karenanya sekarang ia tidak lagi meninggalkan sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyimpannya di balik jubahnya.

“Buku apa itu di dalam sakumu?” tanya tuan rumah kepada Nashrudin.
“Ha, mungkin dia sedang mencari-cari sepatuku,” pikir Nashrudin, “untung aku dikenal sebagai kutu buku.”
Maka dengan sekeras-kerasnya ia berkata: “Tonjolan yang engkau lihat ini adalah Kebijaksanaan.”

“Menarik sekali! Dari toko buku mana engkau dapatkan itu?”
“Yang jelas aku mendapatkannya dari toko sepatu!”

Bersembunyi Dari Pencuri

Suatu malam seorang pencuri membobol rumah Nasruddin. Untung saja Nasruddin melihatnya. Karena takut, dengan cepat Nasruddin bersembunyi di dalam sebuah kotak besar yang terletak di sudut ruangan.

Si pencuri sedang mengaduk-aduk isi rumah Nasruddin mencari uang ataupun barang berharga yang dimiliki Nasruddin. Dia membuka lemari, laci-laci, kolong-kolong, dan lain-lain. la tapi tidak menemukan satu pun barang berharga.

Pencuri itu hampir saja menyerah dan memutuskan untuk keluar dari rumah Nasruddin. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada kotak besar yang terletak di sudut ruangan kamar Nasruddin. Dia sangat senang karena dia yakin dalam kotak itulah disimpan harta benda yang dia cari.

Walaupun kotak itu terkunci kuat dari dalam, tapi dengan kekuatan penuh, pencuri itu berhasil membuka kotak tersebut. Pencuri itu sangat kaget ketika melihat Nasruddin berada di dalam kotak itu. Pencuri itu sangat marah dan berkata, “Hei! Apa yang kau lakukan di dalam situ?”

“Aku bersembunyi darimu,” jawab Nasruddin.

“Kenapa?”

“Aku malu, karena aku tak punya apapun yang dapat kuberikan padamu. Itulah alasan mengapa aku bersembunyi dalam kotak ini.”

Tampak Seperti Engkau

Suatu hari Nashrudin, sambil berdiri di dekat lapangan sebelah pasar, dengan sepenuh hati melantunkan sebuah syair:

“O, cintaku! Keseluruhan diriku begitu terliputi oleh-Mu Segala yang ada di hadapanku Tampak seperti Engkau!”

Tiba-tiba seorang pelawak berteriak: “Bagaimana jadinya jika ada orang dungu di depan matamu?”

Tanpa berhenti, sang Mullah terus membaca syairnya: “…Tampaknya seperti Engkau!”

“Heh?”

Ujian Menebak Isi Tangan

“Menurut pandangan umum, para Sufi itu gila,” gumam Nashrudin. “Menurut para orang bijak, mereka benar-benar penguasa dunia. Aku akan mengeceknya, supaya aku sendiri bisa yakin mana yang benar.”

Kemudian ia melihat seseorang yang tinggi besar, mengenakan jubah seperti seorang Sufi Akhdan.

“Sahabat,” kata Nashrudin, “aku ingin membuat sebuah percobaan untuk menguji  kekuatan jiwamu, dan juga kesehatan rohaniku.”

“Boleh. Silakan mulai,” kata sang Akhdan.

Nasrudin membuat gerakan menyapu dengan tangannya, kemudian mengepalkan kedua tangannya. “Sekarang, apa yang ada ditanganku?”

“Seekor kuda, kereta dan sais,” ujar sang Akhdan cepat.

“Itu sih bukan test,” ujar Nashrudin marah, “Habis kamu sih tadi melihat aku mengambilnya.”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/ujian-menebak-isi-tangan/>

Perlakuan Sama Tapi Hasil Berbeda

“Segala sesuatu yang ada harus dibagi sama rata,” ujar seorang filsuf di hadapan sekelompok orang di warung kopi.

“Aku tak yakin, itu akan terjadi,” ujar seseorang yang selalu ragu.

“Tapi, pernahkah engkau memberi kesempatan?” menimpali sang filsuf.

“Aku pernah!” teriak Nashrudin. “Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa yang betul-betul mereka inginkan.”

“Bagus sekali!” kata sang filsuf. “Sekarang katakan bagaimana hasilnya.”

“Hasilnya adalah seekor keledai yang baik, dan istri yang buruk.”

Anak Kecil yang Kurang Ajar

Nashrudin biasa duduk-duduk di teras sebuah warung kopi. Suatu hari, seorang anak kecil laki-laki berlari di hadapannya sambil memukul kepala Nashrudin sehingga sorbannya melayang. Tapi sang Mullah tidak bereaksi apa-apa. Hal yang sama terjadi terus selama beberapa hari. Yang selalu dilakukan sang Mullah adalah mengambil sorbannya yang terjatuh dan mengenakannya kembali.

Seseorang bertanya kepada Nashrudin mengapa ia tidak menangkap dan menghukum anak kecil itu, atau meminta orang lain untuk melakukanya.

“Itu bukan cara yang tepat,” kata Nashrudin.

Suatu hari Nashrudin, terlambat datang ke warung kopi. Ketika sampai di sana, dilihatnya seorang serdadu dengan wajah yang seram sedang duduk di tempat yang biasanya ia duduki. Tiba-tiba anak kecil laki-laki itu muncul. Seperti biasanya, ia menonjok sorban orang yang duduk di tempat itu. Tanpa berkata apa-apa, sang serdadu menghunus pedangnya dan kemudian memenggal leher anak
itu.

“Ah, dia kan hanya anak kecil…!” gumam Nashrudin dengan penuh sesal.
<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/anak-kecil-yang-kurang-ajar/>

Tidak ada Yang Menawarkan Keledai Pengganti

“Engkau memang telah kehilangan keledaimu, Mullah. Tetapi tidak perlu bersedih, lebih sedih dibanding ketika engkau kehilangan istrimu.”

“Ah, kalau saja kalian ingat. Ketika aku kehilangan istriku, kalian semua warga kampung berkata: ‘Kami akan mencari pengganti untukmu’. Tapi coba sekarang, ketika keledaiku mati tak seorang pun yang menawarkan penggantinya.”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/tidak-ada-yang-menawarkan-keledai-pengganti/>

Makan Sop Bebek

Nasrudin memandang beberapa ekor bebek yang kelihatannya akan lezat bila dimasak. Mereka sedang bersenang-senang di sebuah kolam. Ketika Nashrudin mencoba menangkapnya, bebek-bebek itu terbang.

Setelah itu ia celupkan beberapa patong roti ke dalam air dan kemudian melahapnya. Beberapa orang yang lewat bertanya apa yang ia lakukan itu.

“Aku sedang makan sop bebek,” jawab Nashrudin kalem.

Menolong Bulan

Ketika sedang berjalan-jalan, Nashrudin melewati sebuah sumur yang membuatnya ingin melihat ke dalamnya. Ketika itu hari mulai malam. Waktu Nashrudin menatap air dalam sumur itu, ia melihat bulan di sana.

“Aku harus menyelamatkan bulan!” pikir Nashrudin. “Jika tidak, ia tidak akan pernah beranjak, dan bulan puasa tidak akan pemah berakhir.”

Akhirnya, ia mendapatkan seutas tali, dan kemudian, ia pun berteriak: “Pegang kuat-kuat, ya, terus bersinar”

Tali itu ternyata terjerat pada sebuah batu besar di dalam sumur, dan Nasrudin menghela tali itu sekuat tenaga. Ketika ujung tali sudah hampir mendekatinya, ia jatuh terpelanting. Sambil terkapar, matanya memandangi langit, dan tiba-tiba saja, ia melihat sang Bulan sudah ada di sana. Bisa juga engkau kuselamatkan kata Nashrudin, Betulkan, untung saja saya aku lewat.”

Nashrudin dan Tiga Orang Bijak

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nashrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nashrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nashrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.

Orang bijak pertama bertanya kepada Nashrudin, “Di mana sebenarnya pusat bumi ini?”
Nasrudin menjawab, “Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara.”
“Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?” tanya orang bijak pertama tadi.
“Kalau tidak percaya,” jawab Nashrudin, “Ukur saja sendiri.”
Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.

Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. “Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?”
Nasrudin menjawab, “Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini.”
“Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?”
Nasrudin menjawab, “Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.”
“Itu sih bicara goblok-goblokan,” tanya orang bijak kedua, “Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.”
Nasrudin pun menjawab, “Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?”
Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.

Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan Nashrudin dan dengan ketus bertanya, “Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.”
“Saya tahu jumlahnya,” jawab Nashrudin, “Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara.”
“Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanyanya lagi. “Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.”

Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut.

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/nasrudin-dan-tiga-orang-bijak/>

Siapa yang Salah Kalau Kecurian

Suatu hari Nashrudin dari istrinya pulang dan mendapati rumah mereka telah dimasuki pencuri. Segala sesuatu yang berguna dibawa kabur sang pencuri,

“Ini semua salahmu.” kata istrinya, “karena kamu selalu merasa yakin bahwa pintu rumah sudah terkunci sebelum kita pergi”

Para tetangga juga turut berkomentar: “Kamu sih tidak mengunci pintu-pintu,” ujar seorang tetangga.

“Heran. Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal terjadi?” ujar yang lain. “Kunci-kunci ternyata sudah rusak dan kamu tidak menggantinya,” kata orang ketiga.

“Sebentar,” kata Nashrudin, “tentunya, aku bukan satu-satunya orang yang bisa kalian salahkan.”

“Lalu, siapa yang harus kami salahkan kalau bukan engkau?” teriak orang-orang dengan gemas…

“Lho? Kok bukan para pencuri itu?” kata Nashrudin.

Kehilangan Sorban

Suatu hari Nashrudin kehilangan sehelai sorbannya yang bagus dan berharga mahal.

“Kamu tidak sedih Nashrudin?” seseorang bertanya kepadarnya.
“Tidak. Aku optimistis, kok. Kau sendiri lihat, aku telah menawarkan hadiah setengah sekeping uang perak bagi siapa saja menemukannya.”
“Tapi penemunya, tentu, tidak akan mengembalikan sorbanmu. Habis, hadiahnya tidak sebanding dengan nilai sorban yang seratus kali lipat itu.”
“Sudah kupikirkan itu. Aku juga sudah membuat pengumuman bahwa sorban yang hilang itu kondisinya kotor sekali dan tua, berbeda dengan yang sebenarnya.”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/kehilangan-sorban/>

Sedih Karena Keledai Mati

“Huuu… huuuu…”
“Ada apa, Nashrudin?”
“Aku sedih sekali hari ini. Istriku sakit.”
“Oh, aku kira, keledaimu yang sakit.”
“Ya, memang betul. Tapi aku sedang melatih diriku agar terbiasa menghadapi kejutan dengan tahapan yang mudah dulu.”

Memberi Nasihat Gratis

Suatu hari Nashrudin pergi ke rumah hartawan untuk mencari dana. “Bilang sama tuanmu,” kata Nashrudin kepada penjaga pintu gerbang, “Mullah Nashrudin datang, mau minta uang.”

Sang penjaga masuk, dan kemudian ke luar lagi. “Aku khawatir, jangan-jangan, tuanku sedang pergi,” katanya.

“Ke sini. Ini ada pesan untuk tuanmu,” kata Nashrudin. “Meskipun ia belum memberi sumbangan, tapi tidak apa-apa, ini nasihat gratis buat tuanmu. Lain kali, kalau tuanmu pergi, jangan sampai ia meninggalkan wajahnya dijendela. Bisa-bisa dicuri orang nantinya.”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/memberi-nasihat-gratis/>

Menghabiskan Halwa Masakan Istri

Suatu hari Nashrudin meminta istrinya untuk memasak halwa, masakan dari daging yang diberi bumbu dengan rasa manis. Istrinya memasak makanan itu dalam jumlah besar, dan Nashrudin hampir saja menyantap habis seluruhnya.

Malamnya, ketika mereka berdua sudah hampir lelap tertidur, Nashrudin mengguncang-guncang tubuh istrinya. “Eh, aku ada gagasan bagus.”
“Apa itu?”
“Bawa dulu ke sini sisa halwa yang masih ada. Baru setelah itu aku beri tahu gagasan yang ada di otakku.”

Istri Nashrudin segera bangkit dan mengambil sisa halwa yang langsung dilahap oleh sang Mullah.
“Sekarang,” kata istrinya, “aku tidak akan bisa tidur sebelum engkau ceritakan isi pikiranmu itu.”
“Idenya itu,” kata Nashrudin, “Jangan sekali-kali pergi tidur sebelum menghabiskan semua halwa yang telah dibuat pada hari itu juga.”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/menghabiskan-halwa-masakan-istri/>

Umur yang Konsisten

“Berapa umurmu, Nashrudin?”
“Empat puluh.”
“Lho? dulu, kau menyebut angka yang sama ketika aku menanyakan umurmu itu, dua tahun yang lalu?”
“Ya, aku memang selalu berusaha konsisten dengan apa yang pemah kukatakan.”
“Oh, begitukah cara menepati omongan?”
“Masak kau nggak tahu?”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/umur-yang-konsisten/>

Tidak Ikhlas Menolong

Tidak etis jika kita selalu menyebut-nyebut pertolongan yang kita berikan kepada orang lain. Nashrudin hampir saja terjatuh ke dalam sebuah kolam. Tapi seseorang yang tidak terlalu dikenalnya berada di dekat tempat itu dan kemudian menolongnya. Setelah itu, setiap kali orang itu bertemu dengan Nashrudin, ia selalu mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukannya terharap sang Mullah.

Suatu kali, Nashrudin membawa laki-laki itu ke dekat kolam, kemudian sang Mullah menerjunkan dia ke dalam air. Dengan kepala menyembul di permukaan air, Nashrudin berteriak: “Kau lihat, sekarang aku sudah benar-benar basah, seperti yang seharusnya terjadi jika engkau dulu tidak menolongku! Sudah, pergi sana!”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/tidak-ikhlas-menolong/>

Membantu Orang Membayar Hutang

“Saudaraku,” kata Nashrudin kepada seorang tetangga, “aku sedang mengumpulkan uang untuk membayar utang seorang laki-laki yang amat miskin, yang tidak mampu memenuhi tanggung jawabnya.”
“Sikap yang amat terpuji,” komentar tetangga itu, dan kemudian memberinya sekeping uang.
“Siapakah orang itu?”
“Aku,” kata Nashrudin sambil bergegas pergi. Beberapa minggu kemudian Nashrudin muncul lagi di depan pintu tetangganya itu. “Kupikir, kau mau membicarakan soal utang,” kata sang tetangga yang sekarang tampak sinis.
“Betul demikian.”
“Ada seseorang yang tidak bisa membayar utangnya dan engkau mengumpulkan sumbangan untuknya?”
“Ya. Memang demikian adanya.”
“Lalu engkau sendiri yang meminjam uang itu?”
“Tidak untuk saat ini.”
“Aku senang mendengarnya. Ini ambillah sumbangan ini.”
“Terima kasih…”
“Satu hal, Nashrudin. Apa yang membuatmu begitu bersikap manusiawi terhardap masalah yang khusus ini?”
“Oh, rupanya kamu tahu… akulah yang memberi pinjaman.”

<http://contohrpp.wordpress.com/2009/07/21/membantu-orang-membayar-hutang/>